Aksi Solidaritas (demo) Dokter Indonesia

advokasi, sanggup.in

27 November 2013 mungkin akan diingat sebagai hari demo dokter di Indonesia.

Para dokter hampir diseluruh Indonesia pada hari itu kompak melakukan aksi solidaritas atas kasus Dr Ayu dan dua rekannya yang diputus bersalah oleh MA atas dakwaan malpraktik. Kasus tersebut sudah berproses sejak 2010. Saya tidak akan mengomtari kasus tersebut. Siapalah saya ikut-ikut dalam kerunyaman kasus hukum tersebut.

Yang menarik bagi saya justru komentar, diskusi, dan pernyataan beberapa kawan di jejaring media sosial terkait aksi solidaritas para dokter tersebut. Ada beberapa hal menarik seperti:

  1. Istilah aksi solidaritas yang oleh beberapa orang tidak mau dikatakan sebagai demonstrasi. Entah karena rasa bahasa demo yang indentik dengan buruh dan mahasiswa. Menurut saya aksi tersebut sama saja dengan demonstrasi apalagi menilik arti katanya di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Toh, demonstrasi adalah hak warga negara dan dilindungi Undang-undang. Kalau istilah demonstrasi dirasa kurang pas, mungkin bisa diganti unjuk rasa *padahal artinya sama :p
  2. Pro dan kontra aksi tersebut tentu merupakan hal yang wajar ditengah iklim demokrasi yang sedang berkembang di Indonesia. Banyak media yang mengangkat dampak negatif dari aksi tersebut. Misalnya pasien yang terlantar, keributan keluarga pasien, dan lain-lain. Bagaimanapun begitulah media arus utama kita. Bad news is a good news. Hal ini tentu semakin membentuk sentimen negatif publik ditengah kualitas pelayanan kesehatan kita yang memang belum ideal.
  3. Media sosial dan jurnalisme warga bisa menjadi sedikit harapan. Peran aktif para dokter dalam mengadvokasi persoalan pelayanan kesehatan sangat mutlak. Dimulai dari jaringan pertemanan di media sosial mereka. Beberapa kawan dokter yang saya kenal di Bali Blogger Community aktif melakukannya. Sebut saja dr. Oka Negara, dr. Deddy Andaka, dr. Pramesemara dan beberapa kawan dokter lainnya.
  4. Kemarin saya membuat status/pernyataan di facebook seperti ini, “Masih ngeributin aksi dokter kemarin ya? Saya menghayal kalau aksi solidaritasnya diganti dengan memberikan pelayanan kesehatan gratis selama 1 minggu penuh diseluruh indonesia. Mungkin dampaknya beda. :D” Apresiasi berupa like dan beberapa komentar lalu bermunculan distatus tersebut.Pernyataan itu terbersit dalam benak saya, setelah memperhatikan beberapa pemberitaan terkait aksi solidaritas yang dilakukan para dokter. Tangkap saya makin banyak sentimen negatif yang muncul/dimunculkan media. Kembali ke poin no. 2.Khayalan saya, aksi solidaritas dilakukan serentak di seluruh Indonesia oleh seluruh dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Para dokter tetap melakukan praktik dan pelayanan seperti biasa dengan menggunakan pita hitam pada bajunya. Jika ada pasien atau orang lain yang bertanya, mereka bisa menjelaskan maksud pita hitam tersebut sebagai dukungan untuk dr Ayu.

    Aksi solidaritas dilakukan selama seminggu penuh dengan memberikan pelayanan kesehatan secara gratis alias tidak memungut biaya untuk jasa mereka. Untuk obat dan layanan lain biarlah tetap berlaku seperti biasa. Jadi yang diberikan gratis hanya jasa layanan para dokter. Saya yakin para dokter tidak akan jatuh miskin karena aksi ini. Solidaritas yang tebangun tentu bisa lebih luas. Tidak hanya sesama profesi dokter tapi juga warga yang sama-sama menjadi korban buruknya sistem layanan kesehatan kita.

    Tentu pasien dan keluarga pasien akan bertanya, kenapa gratis biaya periksanya? Inilah kesempatan memberikan penjelasan bahwa sistem layanan kesehatan di Indonesia bukan hanya tergantung dokter. Ada pemerintah dan DPR sebagai pemangku kebijakan dan anggaran negara. Tentu akan repot menjelaskan satu persatu kepada setiap pasien yang dilayani. Selembar selebaran provokatif tentu bisa jadi solusi teknis. Bahkan bisa diarahkan pada petisi dukungan untuk peningkatan kualitas layanan kesehatan. Bisa gunakan change.org sebagai platform petisi online.

Yah, namanya juga khayalan. Mari bersama berusaha berkontribusi dalam upaya peningkatan pelayan kesehatan yang lebih baik. Sanggup gak ya? Ya Sanggupin!

*tulisan ini adalah opini pribadi dari pengamatan dan diskusi di media sosial.
Kurang lebihnya maafin ya 😀

Sumber foto: Gung Wie