Rantai Putus – #tanggu hari ke 9

#tanggu, Daily

Sabtu. Hari libur kerja saya setelah kembali bekerja kantoran. Wiken alias sabtu dan minggu merupakan hari yang terasa istimewa karena bisa hampir seharian bersama Galang (Jika tidak ada kegiatan kantor/kerjaan). Wiken saya bisa memasak untuk Galang, menemani Galang bermain dan mengajarkan hal-hal baru untuknya. Atau pergi keluar rumah bertiga sekedar berbelanja atau mengunjungi kakek Biu-nya Galang di Peguyangan.

Sabtu 16 Januari 2016 bertepatan dengan tumpek Bubuh di Bali. Tumpek bubuh juga bertepatan dengan odalan di banjar saya. Banjar Batan Buah, Beraban. Sore menjelang malam akan ada persembahyangan bersama di Balai Banjar, dimana persiapannya sudah dimulai tiga hari sebelumnya. Hari ini saya juga ada janji ke Denpasar untuk mengambil mockup majalah yang akan di cetak kantor. Siang terasa sangat panas ketika saya menuju Denpasar sekitar pukul 11.

Hembusan angin panas terasa menerpa-nerpa wajah saat melaju mengendarai motor. Rasa panas terik itu membuat rute perjalanan terasa lebih jauh dari semestinya. Beraban, Pedungan, Peguyangan, Dalung, dan pulang Beraban adalah rute yang harus saya tempuh siang ini. Ada beberapa misi lain selain mengambil mockup majalah di percetakan di Pedungan. Misi ke Peguyangan adalah mengantarkan banten/sajen untuk upacara ke rumah mertua. Kemudian mengembalikan kursi makan bayi yang saya sewa, namun karena penyewa yang tidak berhasil dihubungi akhirnya misi ini gagal.

Selain itu saya mampir mengganti sadel jok motor yang mulai robek dan mencuci sepeda motor milik istri yang saya pakai. Sepanjang menjalankan misi-misi itu tubuh terasa lemas dan mata mengantuk. Mungkin karena hawa panas yang menyengat siang itu, pikir saya. Sayapun berusaha mencari penjual es kelapa muda yang sepertinya akan membantu melawan panasnya siang ini. Setelah membeli es kelapa muda dan berteduh di sebuah bengkel, rasa kantuk dan lemas itu bukannya menghilang namun malah menjadi-jadi semakin kuat.

Akhirnya setelah misi yang tersisa selesai, segera saya pacu motor untuk pulang ke Beraban agar sempat istirahat/tidur sebelum sembahyang di balai banjar pada sore harinya. Singkat cerita, saya pun sempat rebahan dan tertidur sebentar (kurang lebih 1 jam) sebelum dibangunkan untuk menyuapi dan memandikan Galang. Rasa kantuk dan lelah itu masih mendekap badan. Tidur sejam itu bagai 2 tetes air saat sedang dahaga alias tidak terasa. Sekitar pukul 7 malam saya mengikuti upacara sembahyang di balai banjar bersama Galang. Ibunya mendapat giliran ngayah odalan banjar.

Setelah selesai sembahyang di banjar, pulangnya saya kembali rebahan dan tertidur bablas sampai hari minggu pagi. Yup, putus sudah rangkaian rantai untuk berolahraga setiap hari. Hari sabtu ini tubuh saya sangat lelah dan mungkin memang  butuh lebih banyak istirahat. Apakah #tanggu saya gagal? Saya meyakini saya tidak gagal selama saya tidak menyerah dan berhenti melakukan komitmen saya. Kalaupun ada yang lubang atau tidak sesuai rencana, itu merupakan bagian dari pembelajaran untuk kemudian memperbaikinya.

Semoga sisa hari #tanggu ini bisa penuh dan semakin baik.

One thought on “Rantai Putus – #tanggu hari ke 9

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *