Ngirim paket hape

Pengalaman

Setelah lebih kurang limabelas menit menunggu no antrian yang saya pegang muncul dilayar. Diiringi rekaman suara perempuan mengeja nomor antrian dan menyebutkan nomor loket yang harus saya tuju. Sambil bercakap dengan kawan sebelahnya, lelaki yang bertugas di loket 10 menanyakan isi paket yang akan saya kirim. Langsung saya jawab hape. 

Petugas tersebut lalu menyampaikan bahwa kantor pos tidak menerima pengiriman paket berupa henpon. Saya sedikit kaget karena baru mengetahuinya. Saya coba menjelaskan bahwa ini merupakan hape baru, batrenya sudah dilepas, dan dalam kondisi mati. Lalu saya tanyakan alasan pelarangannya, entah karena kurang paham aturannya atau dia enggan berdebat petugas itu mengarahkan saya untuk ke meja customer services yang terletak di sebelah kanan pintu masuk.

Dua orang petugas di bagian customer services sedang sibuk melayani pelanggan. Ketika melihat seorang pelangan sedang sibuk dengan hapenya, saya menyela petugasnya dengan menanyakan apakah betul tidak menerima pengiriman paket hape dan alasannya. Bapak-bapak yang bertugas di bagian customer services tersebut langsung mengiyakan dan menjelaskan bahwa paket tersebut akan ditolak oleh pihak bandara. Lalu saya jawab, Ooo… lalu apa sulitnya membuat pengumuman atau menugaskan satpam yang menjaga mesin antrian memberikan penjelasan terlebih dulu kepada calon pelanggan sebelum pelanggan mengambil nomor antrian dan menunggu? Belum sempat menjawab, saya potong dengan mengucapkan terima kasih dan berlalu pergi meninggalkan kantor pos. Lalu saya berpikir pantesan toko atau penjual online lebih sering menggunakan jasa pengiriman tiki JNE.

Kantor pos Renon sudah mengalami banyak perubahan dan perbaikan dari waktu ke waktu. Ruang tunggu yang luas dan nyaman, no antrian otomatis, dan bahkan ada toko waralaba circle K disebelah ruang tunggu. Malahan saat ini sedang dilakukan renovasi gedung dibagian depannya. Sebuah usaha berbenah yang memang pantas dilakukan ditengah persaingan jasa pengiriman yang kian ketat.

Semoga pengalaman saya ini bisa menjadi masukan untuk perbaikan layanan kantor Pos Indonesia kedepannya. Sanggup gak? Ya, sangupin!

Akhirnya saya menggunakan jasa pengiriman tiki JNE yang berada di jalan bypass Ngurah Rai Sanur. Tanpa menunngu lama (karena siang ini kantor JNE tidak terlalu ramai) saya kemudian dilayani. Setelah mengetahui paket yang akan saya kirim berupa henpon, petugas lalu menanyakan apakah ingin dibungkus kayu atau diasuransikan? Saya memilih tidak menggunakan bungkus kayu namun memilih asuransi.

Mbak-mbak pegawai JNE lalu meminta izin untuk membuka bungkus paket untuk memeriksa barang. Saya persilakan. Dengan sigap si embak mebuka bungkus paket, memeriksa isi kotak, mencatat kelengngkpan dan warna henpon serta no seri dan IMEI-nya. Setelah mencatat data pengirim dan tujuan barang, melakukan kalkulasi dan pembuatan nota, si embak lalu membungkus kembali henpon yang hendak saya kirim dengan menggunakan bubble wrap ( itu lho, plastik yang ada gelembung-gelembung udaranya). Lalu membalut dengan selotip coklat dan selotip segel JNE.  Untuk tujuan Surabaya ditambah asuransi uang yang harus saya bayarkan adalah 23.400 rupiah dengan paket reguler (2-3 hari sampai tujuan).

Oya, hape yang saya kirim adalah hadiah untuk pemenang lomba foto UU Project dengan tema Wajah Kota Kita. Selamat untuk para pemenang, semoga makin semangat menjadi pewarta warga.

 

 

2 thoughts on “Ngirim paket hape

  1. Bubble wrap yang bener bung. Dan memang ekspedisi sini kayanya untuk memberikan service yang bagus itu susah bener. Aku ada beberapa horror story soalan JNE :\

    1. Terima kasih koreksinya Prim. *sudah diedit. 🙂

      Wah semoga tidak terjadi hal-hal horor pada paket kirimanku. Kan tinggal ngamuk-ngamuk dikantor mereka prim? :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *