Kita baik-baik saja.

advokasi, Pengalaman

Kita baik-baik saja saat nenek masih bertani kecambah dipinggir sungai. Menimba air dari sungai untuk menyiram kecambah tiap 3 jam.

Kita baik-baik ketika nenek menjual kecambah dengan bungkus daun jati. Ada orang dari Bukit (Jimbaran) yang berjualan daun jati untuk pembungkus. Sayuran, bumbu dapur, daging dan ikan dibungkus dengan daun jati atau pisang. *

Kita baik-baik saja dikala biji kedelai didapat dari panen petani di sekitar Desa Guwang. Biji kacang ijo dari Lombok. *

Kita baik-baik saja ketika buah, bunga, dan janur perlengkapan upacara yadnya diambil dari tebe (halaman belakang). Tebe juga tempat membuang sampah yang tak lama akan menjadi pupuk kompos. *

Sekarang, air harus dinaikan dengan mesin menggunakan listrik. Ditampung dalam galon plastik besar. Kemudian digunakan menyiram kecambah.

Sekarang, kecambah dibungkus kantong plastik bening, lalu dimasukan ke dalam tas plastik. Tas kresek nenek menyebutnya.

Sekarang, biji kedelai bahan baku kecambah hasil panen petani Tiongkong. Dibeli negara Indonesia dalam jumlah sangat banyak. Konon panen petani Indoneaia tidak mencukupi kebutuhan dalam negeri. Begitu juga kacang ijo.

Sekarang pelengkap upacara yadnya berupa buah hasil petani Australia dan Tiongkok hingga minuman kaleng bermerek dagang Jepang dan Amerika.

Dahulu kita baik-baik saja.

*cerita Ibu saya tadi pagi.

One thought on “Kita baik-baik saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *