Hama sampah plastik!

Pengalaman, sanggup.in
Sudah setahun lebih saya dan istri pulang dan menetap di kampung. Rumah tempat kami tinggal tidak jauh dari hamparan sawah. Areal persawahan terletak di sebelah barat kawasan pemukimam area rumah saya. Kawasanan pemukiman dan sawah dibatasi oleh sebuah parit/selokan yang berfungsi sebagai saluran pembuangan air sawah dan limbah cair rumah tangga. Disepanjang parit itu ditumbuhin banyak pepohonan terutama bambu, kelapa dan pisang. Tanaman yang menjadi sumber bahan baku umum, utama dan terbanyak sarana upacara adat/agama di Bali.
Dua puluh tahun yang lalu, ketika saya masih anak-anak, saya masih sempat merasakan mandi di parit ini. Ada sebuah bulakan (tempat penampungan air rembesan tanah) yang digunakan oleh keluarga besar saya untuk mandi, buang air besar dan mencuci pakaian. Kamar mandi/toilet rumahan belum ngetren waktu itu, apalagi kamar mandi/toilet yang menyatu dengan kamar tidur. Sekarang bulakan itu sudah kering dan tidak berfungsi lagi. Sampah daun dan plastik sudah membuat parit kecil itu menjadi kotor, sempit dan semakin dangkal.

 

Pemandangan sawah yang menghijau dan indah.

Pemandangan sawah yang menghijau dan indah dekat rumah.

Suatu pagi saya dan istri berjalan-jalan menuju areal persawahan di seberang parit. Belum sampai di areal persawahan warna warni sampah plastik sudah menghiasi wilayah yang biasa disebut sebagai tebe (halaman belakang yang umumnya dibiarkan kosong atau ditanami sayur atau bumbu kebutuhan memasak). Dulu tebe juga digunakan tempat kandang ternak babi atau ayam. Saya jadi teringat dengan cerita dulu kita baik-baik saja yang pernah saya tulis.

sampah tas kresek plastik

Tebe yang berubah menjadi tempat penampungan akhir sampah.

Tebe ini masih milik keluarga jauh saya. Begitu banyak pertanyaan yang muncul di benak saya. Muncul keinginan untuk mencari informasi lebih jauh tentang pengelolaan sampah di Desa saya. Akan saya tulis dalam tulisan lain dengan informasi yang lebih akurat. Ini janji saya. 🙂

Melanjutkan perjalanan menuju persawahan, saya kaget melihat banyaknya sampah terutama sampah plastik yang ‘menghiasi’ saluran air, pematang sawah dan jalan setapak. Sampah-sampah itu tentu tidak datang tiba-tiba. Mereka terbawa aliran air irigasi persawahan dari hulu. Itu jawaban yang saya dapat dari seorang petani yang sedang membersihkan selokan. Saya biasa memanggilnya Kak Agus (Kak adalah panggilan singkat dari pekak, bahasa Bali untuk kakek). Agus adalah nama cucu-nya. Oya, dikampung saya dan mungkin dibeberapa tempat di Bali ada tradisi menganti nama panggilan seseorang jika yang bersangkutan mempunyai anak kemudian mempunyai cucu. Menurut saya ini unik, saya akan menceritakannya dalam tulisan terpisah. *janji lagi.

Kak Agus menjelaskan sampah plastik itu sangat menggangu saluran air. Sudah dibuatkan jaring/saringan dari bambu untuk mencegah sampah plastik mengotori sawah. Tentu saringan bambu tersebut harus dibersihkan berkala dari sampah plastik yang menyumbatnya untuk memastikan sawah mendapat air yang cukup. Tumpukan sampah plastik itu diangkat dan ditimbun di jalan setapak atau pematang sawah. Sampah berpindah, masalah pindah.

Sampah plastik mengendap dan menyumbat saluran air sawah.

sampah plastik di pematang sawah

Tumpukan sampah plastik di pematang sawah

Sampah plastik yang dibuang ke sungai itu sungguh menggangu. Selain mengotori, juga membuat petani harus bekerja ekstra membersihkan saluran airnya. Saya menganggap sampah plastik adalah hama baru! Hama yang belum ditemukan formula untuk membasminya. Kalaupun ada, tidak ada yang menjualnya dalam kemasan sachet dan instan.

Kalau ditengok di KBBI online, pengertian hama adalah ha·ma n 1 hewan yg mengganggu produksi pertanian spt babi hutan, tupai, tikus, dan terutama serangga:anggrek kesayangannya rusak oleh –; 2 benih penyakit; 3 biang keladi kerusakan; perusak:wereng merupakan — padi yg paling ditakuti petani; 

Melihat pemandangan seperti di atas seperti menampar diri sendiri. Saya sudah menyebarkan hama dengan perilaku konsumsi plastik berlebihan. Saya jadi mengingat-ingat berapa banyak plastik yang saya pakai dan buang dalam sehari? Jawabnya banyak. Sanggup kah saya memulai diet plastik? Mengurangi konsumsi plastik? Yuk sanggupin sampai ada formula membasmi hama plastik instan dalam kemasan sachet :p

2 thoughts on “Hama sampah plastik!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *