Pencitraan

sanggup.in

IMG_2411-0.JPG
10 tahun berlalu, dan konotasi kata PENCITRAAN pun menjadi negatif. Tidak terasa bagaimana media dan pengalaman membentuk dan menggeser rasa bahasa.

Ah itu hanya pencitraan. Sering saya mendengar atau membaca kalimat itu. Menurut saya, pencitraan berbeda dengan seolah-olah dan palsu.

Pencitraan itu bisa baik dan bisa juga buruk. Untuk bisa menilainya, tentu banyak variabel yang harus diukur. Kalau mau lebih adil tentu peniliaiannya harus menyeluruh.

Misal sebuah kegiatan sosial atau pembangunan yang tiba-tiba marak menjelang pemilu/pilkada, apakah upaya pencitraan calon kandidat untuk meraih simpati atau memang program/kegiatan yang memang sudah seharusnya berjalan atau menjadi kewajiban ybs?

Mari jujur dan serius menilai. Sanggup?

Hama sampah plastik!

Pengalaman, sanggup.in
Sudah setahun lebih saya dan istri pulang dan menetap di kampung. Rumah tempat kami tinggal tidak jauh dari hamparan sawah. Areal persawahan terletak di sebelah barat kawasan pemukimam area rumah saya. Kawasanan pemukiman dan sawah dibatasi oleh sebuah parit/selokan yang berfungsi sebagai saluran pembuangan air sawah dan limbah cair rumah tangga. Disepanjang parit itu ditumbuhin banyak pepohonan terutama bambu, kelapa dan pisang. Tanaman yang menjadi sumber bahan baku umum, utama dan terbanyak sarana upacara adat/agama di Bali.
Dua puluh tahun yang lalu, ketika saya masih anak-anak, saya masih sempat merasakan mandi di parit ini. Ada sebuah bulakan (tempat penampungan air rembesan tanah) yang digunakan oleh keluarga besar saya untuk mandi, buang air besar dan mencuci pakaian. Kamar mandi/toilet rumahan belum ngetren waktu itu, apalagi kamar mandi/toilet yang menyatu dengan kamar tidur. Sekarang bulakan itu sudah kering dan tidak berfungsi lagi. Sampah daun dan plastik sudah membuat parit kecil itu menjadi kotor, sempit dan semakin dangkal.

Kita Beradaptasi

Pengalaman, sanggup.in

Adaptasi adalah proses alamiah penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitarnya. Sekiranya itulah difinisi adaptasi yang masih diingat otak saya dari penjelasan guru biologi ketika masih SMP. Kelas berapa saat itu saya tidak ingat.

Saya tidak berusaha memperbaiki dan menyempurnakan difinisi itu dengan mencari referensi lain yang dengan mudah bisa didapat dengan mengetikan kata kunci ‘adaptasi adalah’ di laman google. Saya merasa definis dari ingatain itu masih relefan, paling tidak untuk tulisan di blog ini.

Adaptasi yang ingin saya tulis tidak terpaut langusung dengan biologi. Lebih kepada adaptasi perilaku atau tindakan manusia. Tulisan ini adalah rangkuman lamunan dan kegelisahan saya ketika mengendarai sepeda motor diseputaran Kerobokan menuju Tuban melewati Legian dan Kuta.

Seperti biasa ketika sore hari jalanan kawasan tersebut akan padat dan kadang macet. Motor dan mobil berlomba untuk melintas melawati ruas jalan yang terasa sangat sempit. Bagi pengendara motor tentu kelincahan meliuk diantara celah mobil yang berjalan tersendat merupakan sebuah kelebihan untuk memenangkan perlombaan.

Trotoar pun menjadi jalur khusus yang bisa dimanfaatkan sewaktu-waktu bila celah diantara mobil sudah tidak memungkinkan lagi. Hanya perlu satu motor untuk menjadi pionir lalu motor lain akan dengan sigap mengikuti. Trotoarpun berubah menjadi jalur sepeda motor yang memaksa pejalan kaki untuk minggir.

Suatu sore saya melihat dua motor yang dikendarai empat bule (berbonceng dan berpasangan laki dan perempuan) juga ikut dalam rombongan motor yang menerabas trotoar. Saya sebut bule karena melihat ciri fisiknya dalam ras kaukasoid entah apa kewarganegaraannya. Namun, entah mengapa asumsi dalam otak saya mereka adalah turis Australia (entah bagaimana otak saya bekerja menghasilkan asumsi ini).

Melihat kejadian itu saya ingatan saya melayang pada obrolan beberapa bulan lalu saat bertemu dengan Om Rudolf Dethu di Jakarta tentang hidup di Australia. Menurut Om Dethu di Australia kehidupan sangat tertib dan sistem penegakan hukumnya sangat baik. Sistem adminitrasi kependudukan yang terintegrasi dan kejelasan prosedur pelayanan publik menjadi sebuah momok bagi warga atau turis yang berkunjung ke Australia.  Bahkan untuk berkumpul dan nongkrong sambil mengkonsumsi alkohol disana perlu perencanaan yang baik. Hal agar tidak menimbulkan masalah lain seperti mengemudi ketika mabuk atau harus membayar mahalnya biaya taxi untuk pulang ke rumah setelah nongkrong 🙂

Obrolan dengan Om Dethu juga diperkuat oleh obrolan lain dengan Bli Made Surya Antara ketika saya juga bertemu di Jakarta di lain kesempatan. Bli Made adalah seorang PNS di yang menempuh pendidikan S2 di Australia. Dalam obrolan sambil makan malam tersebut bli Made sempat menceritakan fenomena-fenomena seperti perubahan perilaku orang yang ‘kurang tertib’ di Bandara Soekarno Hatta namun menjadi sangat tertib dan disiplin ketika tiba di bandara luar negeri.

Saya belum pernah ke Australia atau ke luar negeri. Namun dari obrolan tersebut dan tontonan acara televisi tentang bagaimana petugas bandara Australia bekerja, membuat saya menyimpulkan hal tersebut sangat logis.

Manusia akan menyesuaikan perilakunya dengan lingkungan sekitarnya. Di lingkungan dimana aturan hanya sebagai pelengkap bukan pedoman tentu fenomena pelanggaran aturan adalah hal yang lumrah.

Kembali ke soal bule mengendarai motor melintas diatas trotoar yang saya lihat di Legian dan Kuta, saya tidak menyalahkan mereka. Bagi saya, perilaku mereka adalah bentuk adaptasi terhadap lingkungan. Mereka hanya meniru apa yang dilakukan penduduk lokal yang memberi contoh dan solusi mengatasi kemacetan. Saya yakin mereka akan kembali tertib dan taat aturan ketika kembali ke negaranya.

Sanggup kah kita berperilaku taat aturan dan tidak merugikan orang lain? Sehingga kita menjadi contoh yang baik bagi ‘tamu’ yang berkunjung? Yuk Sanggupin.