Jangan pilih mereka!

advokasi

Ilustrasi baliho caleg. Sumber Beritamanado.com

Baliho dan spanduk berisi foto-foto wajah para caleg yang bertebaran hampir di setiap sudut ruang publik. Selain merusak wajah ruang publik dan menggangu pemandangan, sesungguhnya para caleg itu sedang berkampanye agar kita tidak memilih mereka. Mengapa saya katakan begitu? Karena menurut saya ada dua alasan mereka melakukan itu;

  1. Tidak tahu aturan yang sudah dikeluarkan KPU terkait kampanye yaitu Peraturan KPU no 15 tahun 2013 tentang Pedoman Pelaksanaan Kampanye dan surat edaran KPU No 664/KPU/IX/2013 tentang Kampanye. Dimana apa yang mereka lakukan sudah jelas melanggar beberapa ketentuan dalam peraturan tersebut.
  2. Arogan. Mereka yang tahu ada aturan tersebut tapi tetap melanggarnya. Menunjukan sikap superioritas atas kuasa berupa uang, wewenang dan pengaruh.

Dua alasan yang cukup bagi saya pribadi untuk tidak memilih mereka yang wajahnya bertebaran dipinggir jalan dan sudut ruang publik. Tentu saja saya tidak mau diwakili oleh orang-orang yang tidak tahu aturan dan arogan. 

Bagaimana dengan anda? Jika sepakat dengan saya silakan sebarkan tulisan ini. Jika anda punya pendapat berbeda, silakan tinggalkan komentar dan mari berdiskusi. Sanggup? Ya sanggupin.

——————————————————

Berikut sedikit kutipan Peraturan KPU yang saya sebut diatas:

Peraturan KPU No 15 Tahun 2013 Pasal 17

(1) Kampanye Pemilu dalam bentuk pemasangan alat peraga di tempat umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf d, diatur sebagai berikut:

a. alat peraga kampanye tidak ditempatkan pada tempat ibadah, rumah sakit atau tempat-tempat pelayanan kesehatan, gedung milik pemerintah, lembaga pendidikan (gedung dan sekolah), jalan- jalan protokol, jalan bebas hambatan, sarana dan prasarana publik, taman dan pepohonan;

b. Peserta Pemilu dapat memasang alat peraga kampanye luar ruang dengan ketentuan:

  1. Baliho atau papan reklame (billboard) hanya diperuntukan bagi Partai Politik 1 (satu) unit untuk 1 (satu) desa/kelurahan atau nama lainnya memuat informasi nomor dan tanda gambar Partai Politik dan/atau visi, misi, program, jargon, foto pengurus Partai Politik yang bukan Calon Anggota DPR dan DPRD;
  2. Calon Anggota DPD dapat memasang baliho atau papan reklame (billboard) 1 (satu) unit untuk 1 (satu) desa/kelurahan atau nama lainnya;
  3. Bendera dan umbul-umbul hanya dapat dipasang oleh Partai Politik dan calon Anggota DPD pada zona atau wilayah yang ditetapkan oleh KPU, KPU/KIP Provinsi, dan atau KPU/KIP Kabupaten/Kota bersama Pemerintah Daerah.
  4. spanduk dapat dipasang oleh Partai Politik dan Calon Anggota DPR, DPD dan DPRD dengan ukuran maksimal 1,5 x 7 m hanya 1 (satu) unit pada 1 (satu) zona atau wilayah yang ditetapkan oleh KPU, KPU/KIP Provinsi, dan atau KPU/KIP Kabupaten/Kota bersama Pemerintah Daerah.
  5. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada angka 1, angka 2, angka 3 dan angka 4 berlaku 1 (satu) bulan setelah Peraturan ini diundangkan.

Selengkapnya dapat diunduh disini dan disini.

Kita baik-baik saja.

advokasi, Pengalaman

Kita baik-baik saja saat nenek masih bertani kecambah dipinggir sungai. Menimba air dari sungai untuk menyiram kecambah tiap 3 jam.

Kita baik-baik ketika nenek menjual kecambah dengan bungkus daun jati. Ada orang dari Bukit (Jimbaran) yang berjualan daun jati untuk pembungkus. Sayuran, bumbu dapur, daging dan ikan dibungkus dengan daun jati atau pisang. *

Kita baik-baik saja dikala biji kedelai didapat dari panen petani di sekitar Desa Guwang. Biji kacang ijo dari Lombok. *

Kita baik-baik saja ketika buah, bunga, dan janur perlengkapan upacara yadnya diambil dari tebe (halaman belakang). Tebe juga tempat membuang sampah yang tak lama akan menjadi pupuk kompos. *

Sekarang, air harus dinaikan dengan mesin menggunakan listrik. Ditampung dalam galon plastik besar. Kemudian digunakan menyiram kecambah.

Sekarang, kecambah dibungkus kantong plastik bening, lalu dimasukan ke dalam tas plastik. Tas kresek nenek menyebutnya.

Sekarang, biji kedelai bahan baku kecambah hasil panen petani Tiongkong. Dibeli negara Indonesia dalam jumlah sangat banyak. Konon panen petani Indoneaia tidak mencukupi kebutuhan dalam negeri. Begitu juga kacang ijo.

Sekarang pelengkap upacara yadnya berupa buah hasil petani Australia dan Tiongkok hingga minuman kaleng bermerek dagang Jepang dan Amerika.

Dahulu kita baik-baik saja.

*cerita Ibu saya tadi pagi.

Aksi Solidaritas (demo) Dokter Indonesia

advokasi, sanggup.in

27 November 2013 mungkin akan diingat sebagai hari demo dokter di Indonesia.

Para dokter hampir diseluruh Indonesia pada hari itu kompak melakukan aksi solidaritas atas kasus Dr Ayu dan dua rekannya yang diputus bersalah oleh MA atas dakwaan malpraktik. Kasus tersebut sudah berproses sejak 2010. Saya tidak akan mengomtari kasus tersebut. Siapalah saya ikut-ikut dalam kerunyaman kasus hukum tersebut.

Yang menarik bagi saya justru komentar, diskusi, dan pernyataan beberapa kawan di jejaring media sosial terkait aksi solidaritas para dokter tersebut. Ada beberapa hal menarik seperti:

  1. Istilah aksi solidaritas yang oleh beberapa orang tidak mau dikatakan sebagai demonstrasi. Entah karena rasa bahasa demo yang indentik dengan buruh dan mahasiswa. Menurut saya aksi tersebut sama saja dengan demonstrasi apalagi menilik arti katanya di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Toh, demonstrasi adalah hak warga negara dan dilindungi Undang-undang. Kalau istilah demonstrasi dirasa kurang pas, mungkin bisa diganti unjuk rasa *padahal artinya sama :p
  2. Pro dan kontra aksi tersebut tentu merupakan hal yang wajar ditengah iklim demokrasi yang sedang berkembang di Indonesia. Banyak media yang mengangkat dampak negatif dari aksi tersebut. Misalnya pasien yang terlantar, keributan keluarga pasien, dan lain-lain. Bagaimanapun begitulah media arus utama kita. Bad news is a good news. Hal ini tentu semakin membentuk sentimen negatif publik ditengah kualitas pelayanan kesehatan kita yang memang belum ideal.
  3. Media sosial dan jurnalisme warga bisa menjadi sedikit harapan. Peran aktif para dokter dalam mengadvokasi persoalan pelayanan kesehatan sangat mutlak. Dimulai dari jaringan pertemanan di media sosial mereka. Beberapa kawan dokter yang saya kenal di Bali Blogger Community aktif melakukannya. Sebut saja dr. Oka Negara, dr. Deddy Andaka, dr. Pramesemara dan beberapa kawan dokter lainnya.
  4. Kemarin saya membuat status/pernyataan di facebook seperti ini, “Masih ngeributin aksi dokter kemarin ya? Saya menghayal kalau aksi solidaritasnya diganti dengan memberikan pelayanan kesehatan gratis selama 1 minggu penuh diseluruh indonesia. Mungkin dampaknya beda. :D” Apresiasi berupa like dan beberapa komentar lalu bermunculan distatus tersebut.Pernyataan itu terbersit dalam benak saya, setelah memperhatikan beberapa pemberitaan terkait aksi solidaritas yang dilakukan para dokter. Tangkap saya makin banyak sentimen negatif yang muncul/dimunculkan media. Kembali ke poin no. 2.Khayalan saya, aksi solidaritas dilakukan serentak di seluruh Indonesia oleh seluruh dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Para dokter tetap melakukan praktik dan pelayanan seperti biasa dengan menggunakan pita hitam pada bajunya. Jika ada pasien atau orang lain yang bertanya, mereka bisa menjelaskan maksud pita hitam tersebut sebagai dukungan untuk dr Ayu.

    Aksi solidaritas dilakukan selama seminggu penuh dengan memberikan pelayanan kesehatan secara gratis alias tidak memungut biaya untuk jasa mereka. Untuk obat dan layanan lain biarlah tetap berlaku seperti biasa. Jadi yang diberikan gratis hanya jasa layanan para dokter. Saya yakin para dokter tidak akan jatuh miskin karena aksi ini. Solidaritas yang tebangun tentu bisa lebih luas. Tidak hanya sesama profesi dokter tapi juga warga yang sama-sama menjadi korban buruknya sistem layanan kesehatan kita.

    Tentu pasien dan keluarga pasien akan bertanya, kenapa gratis biaya periksanya? Inilah kesempatan memberikan penjelasan bahwa sistem layanan kesehatan di Indonesia bukan hanya tergantung dokter. Ada pemerintah dan DPR sebagai pemangku kebijakan dan anggaran negara. Tentu akan repot menjelaskan satu persatu kepada setiap pasien yang dilayani. Selembar selebaran provokatif tentu bisa jadi solusi teknis. Bahkan bisa diarahkan pada petisi dukungan untuk peningkatan kualitas layanan kesehatan. Bisa gunakan change.org sebagai platform petisi online.

Yah, namanya juga khayalan. Mari bersama berusaha berkontribusi dalam upaya peningkatan pelayan kesehatan yang lebih baik. Sanggup gak ya? Ya Sanggupin!

*tulisan ini adalah opini pribadi dari pengamatan dan diskusi di media sosial.
Kurang lebihnya maafin ya 😀

Sumber foto: Gung Wie