Abai atau Karma?

Pengalaman

Jakarta siang yang panas
Pengalaman pertama melihat langsung seorang lelaki ditarik dan diseret turun dari angkot. Dia dituduh copet dan dipukuli beramai-ramai.

Lelaki itu memekikan nama Tuhan berkali-kali tanpa pembelaan diri dan perlawanan. Hanya berusaha melindungi wajahnya dari pukulan dan tendangan bertubi-tubi.

Orang yang memukuli semakin banyak, yang menonton mendekat semakin ramai.

Ada yang memberi semangat untuk terus memukuli biar kapok. Ada ibu histeris meminta dibawa ke kantor Polisi. Sebagian terpaku melihat dan sebagian kembali melanjutkan aktivitasnya. Sayapun melanjutkan perjalanan, tanpa intervensi pada kejadian. Duduk sebentar menunggu kereta dan menuliskan peristiwa tadi.

Saya merasa abai sebagai manusia. Atau saya sedang membiarkan hukum karma bekerja? Entahlah.

Kereta sudah datang.

Jakarta, Jumat siang yang panas diantara suara khotbah seperti bersautan.

2 thoughts on “Abai atau Karma?

  1. Saya percaya itu bukan hukum karma yang bekerja. Saya percaya, pahala yang diterima adalah adil, sesuai dengan karma yang dilakukan. Dipukuli beramai-ramai menurut saya tidak adil untuk aksi copetnya.

    1. Bisa jadi begitu Gung, saya sendiri bingung dan terdiam dihadapkan pada peristiwa seperti itu. Itulah yang mendorong saya menuliskannya dalam blog ini. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *